TENTANG KESENIAN RUDAT DI DESA SUBANG
Rasanya mendengar kata RUDAT sudah tidak asing
lagi di telinga para urang Subang Kuningan Jawa barat. Memang, kesenian RUDAT tidak hanya
dikenal di wilayah Kuningan saja, RUDAT juga dikenal di wilayah Mataram Lombok.
Kesenian "RUDAT" Juga merupakan salah satu kesenian khas desa Subang Kec. Subang Kab. Kuningan . Awal kisah
tarian RUDAT ini diperkenalkan oleh penduduk subang yang menuntut ilmu agama
Islam di pesantren Kuningan, sepulangnya mereka dari menuntut ilmu disana
mereka juga memperkenalkan kesenian tari ini kepada warga Subang. Mungkin
kesenian ini menyebar lewat penyebaran Agama Islam di Nusantara Khususnya dari
jalur Kerajaan Mataram islam, lalu menyebar ke Cirebon dan kuningan.
Umumnya rudat yang biasa dipentaskan di
wilayah Kuningan adalah rudat “nangtung” atau berdiri. Namun di daerah subang
sendiri, rudat duduk lebih sering dipentaskan.Dalam perkembangannya Kesenian
Rudat ini sempat mendapat tempat di hati masyarakat Subang dan sekitarnya,
apalagi pada sekitar era tahun 70-80an, Rudat sempat menjadi Kesenian Favorit
bagi warga masyarakat subang, bahkan pada saat itu semua kalangan sangat
menyukai Rudat, dari mulai anak-anak, remaja Hingga orang Tua, hampir setiap
ada peringatan hari besar keagamaan, di setiap Mushola-mushola yang berada di
wilayah Desa Subang, mengadakan Kesenian Rudat. pada peringatan Isra Mi'raj
misalnya, Kesenian Rudat ini selalu dilaksanakan, dan pada Isra Mi'raj di Desa
Subang juga punya Ciri Khas, yaitu dengan disajikannya "WEDANG KONENG",
Papais, Buras , opak, simpring, ranginang dan semacamnya
Biasanya durasi Rudat duduk lebih lama
daripada rudat berdiri. Sekilas, rudat duduk terlihat seperti tari Saman dari
aceh, namun tarian rudat duduk ini gerakannya lebih mirip pencak silat. Rudat duduk biasanya
dipentaskan semalam suntuk. Bahkan menurut cerita sesepuh di kampung, sebelum
ada orang yang memikul besek untuk pergi berjualan di pasar (waktu sekitar jam
4/Tahrim), rudat belum boleh berhenti. Pada masa itu pula, seluruh pemuda dan
anak-anak diharuskan untuk belajar kesenian ini. , Kesnian Rudat ini dilengkapi
dengan seperangkat alat musik tabuh, yaitu "Genjring yang
dimainkan oleh 4 orang dan 1 buah Jidor(beduk kecil)"
dan disertai dengan Alunan puji2an dari kitab AL-BARJANJI yang dilantunkan oleh
para penabuh dan pemain rudat, awalnya Rudat ini dimainkan "DUA BABAK" yaitu
babak pertama Rudat dengan posisi duduk, dan babak kedua yaitu "RUDAT
NANGTUNG" (Rudat dengan posisi berdiri). Namun, kini rudat
hanya memainkan Rudat Duduk saja.
Pada tahun 70-80an di desa subang sediri semua
blok atau kampung memiliki grup penabuh rudat tersendiri. Seperti Grup Paleben,
Tarikolot, Sukasari, Bulakcaringin, Doyong, dan Jati. Sehingga pada zaman itu
diadakan kompetisi Rudat antar blok tiap menjelang maulid Nabi Muhammad SAW
yang menjadi ajang gengsi antar blok. Namun seiring berjalannya waktu dan arus
westernisasi, kini hanya tinggal tersisa Grup Paleben, Doyong/sukasari, dan
Tarikolot saja yang masih memiliki grup penabuh. Dan Grup Paleben lah yang
memang paling kompak dalamal Penabuh dan penari rudatnya. Pada masa-masa
tersebut, para jejaka menggunakan kesenian rudat ini untuk unjuk eksistensi
diri, dan untuk menarik hati para mojang desa yang menonton.
Kegiatan Rudat biasanya diadakan saat
peringatan Maulid Nabi, Isra Mi’raj, Hajatan masyarakat, serta acara
kepemudaan. Kegiatan Kesenian Rudat ini biasanya disetai dengan jamuan, SANGU
KONENG, dan nuah yang harus ada yaitu "CAU" (Pisang), bahkan untuk
menyediakan pisang ini, masyarakat menyumbang cau "Saturuy",
yang biasanya seminggu sebelum acara Maulid Nabi dilaksanakan ada acara masal
"MEUYEUM CAU" atau mematangkan pisang dengan cara dikubur
dalam satu lubang berukuran sekitar 1 x 1 meter lalu "diempos" atau
diasapin, dan ketika acara peringatan Maulid tiba, maka babak selanjutnya
adalah "Ngaludang Cau" atau membongkar pisang yang sudah
matang. Sewaktu acara Maulid Nabi, penulis pun sewaktu kecil pernah berkeliling
desa sambil membawakan tarian rudat nangtung. Dan sempat belajar menabuh
Genjring sampai tahap bisa.
Nada genjring pun tidak sembarangan, ada 4
nada umum yang saya ingat, yaitu : KINCAR, GEJOS, TINGPANG, DAN Nada Campuran. Dalam
menabuh Genjring diperlukan kekompakan antar penabuh 1-4 untuk menghasilkan
irama yang enak didengar dan selaras. Fungsi dogdog/bedug kecil ialah sebagai
penyeimbang nada antar genjring, biasanya kalo penabuh dogdog pandai
berimprovisasi, akan terdengar variasi rudat koplo yang enak juga untuk
bergoyang, sehingga para penari rudat larut dalam nada genjring. Namun di
daerah Cirahayu, dikenal dengan GENJRING RAMPAK, yang mana jumlah genjring yang
dipakai mencapai 20 genjring dan 2 bedug sebagai pengiring tarian rudat
nangtung yang penarinya bisa mencapai 50 orang.
Ada yang menarik dari tarian rudat ini ,
biasanya pada akhir babak tarian rudat ini ada beberapa pemain Rudat yang "NYANDING" (Kesurupan), ini diakibatkan
oleh pemain Rudat tersebut terlalu larut menikmati tarian rudat, namun ada yang
menyebutkan bahwa NYANDING tersebut disengaja oleh salah seorang yang bisa
memasukan "roh gaib" ke dalam
pikiran si pemain (Wallahualam).
Namun dari
pengamatan Penulis, Kesenian rudat kini mulai ditinggalkan oleh generasi muda
di Subang. Hal ini tidak lepas dari banyaknya generasi penabuh dan penari yang
telah wafat, serta banyak dari generasi penerusnya yang merantau ke daerah
lain, sehingga ada mata rantai yang hilang dalam generasi penerus rudat ini. Kini,
rudat Nangtung diambang kepunahan. Dan rudat duduk pun gerakannya sudah tidak
seasli gerakan generasi terdahulu yang lebih ke gerakan silat dalam posisi
duduk.
Akankah Rudat Bisa Berjaya kembali di Kecamatan Subang ???
Comments
Post a Comment